c'mon comrade

Saturday, August 20, 2011

lebih siap

Setahun sudah hingar bingar politik kutinggalkan. Meski tidak total, tapi aku tak lagi terjun ke dalamnya seperti dulu, sewaktu masih berperan aktif di Gerindra. Berkeliling daerah, besosialisasi dengan masyarakat, mengadakan pertemuan mulai dari pusat, cabang, ranting, hingga simpatisan, rapat dari pagi hingga dini hari, berkusut masai mengatur strategi, memaksakan kampanye di kandang sendiri hingga kandang rekan lain dan sesekali harus nginap di rumah sakit gara-gara terlalu sibuk hingga tak memperhatikan kesehatan. Di hari lain, aku harus pula menghadapi pertanyaan dari para wartawan dan pernyataan dari semua orang-orang yang ingin tahu tentangku, atau sekedar ingin memprovokasi.



Tentu saja letih, mengingat banyaknya masalah dan kerja menyita pikiran. Belum lagi fitnah yang kerap singgah, memaksaku melakukan ‘character surgery’. Aku menjelma menjadi seorang yang kejam, tak berperasaan, nakal, dan benar-benar menjijikkan. Sangat celaka, aku bahkan hampir tak mengenali diriku sendiri. Aku jauh dari Ayah, sosok yang menunjukkanku jalan berkuasa, jauh dari keluarga. Parahnya, aku sangat jauh dari Tuhan, inspirasi terbesarku. Jiwaku kosong, pikiranku kacau, hatiku hampa meski ragaku utuh dan elok.

“perfect lady dengan emblem keberuntungan dan dekat dengan di lingkar kekuasaan”, Jonas, rekan dari DPD PPRN menyebutku begitu. Aku mengenalnya di kantor Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utara, jelang verifikasi partai. Kekuasaan, apapun bentuk dan kondisinya, memang sangat mempesona.

Sangat bangga aku dengan sebutan itu. Di sekelilingku, banyak tawaran kerja dan permintaan menjadi fungsionaris organisasi berdatangan. Bahkan sangat menggiurkan. Aku tahu, alasan mereka memilihu, karena aku muda dan penuh semangat. Belum lagi tawaran perjodohan atau merekomendasikan diri ingin jadi pacar. Namun kutepis, karena bersinggungan jadwal dengan partai. Walau sebenarnya itu bukan alasan utama. Anyway, jika aku sudah benar-benar siap, kelak akan kuceritakan mengapa aku melakukan penolakan demi penolakan.

‘who am i?’ satu kalimat yang hampir selalu muncul saat hatiku berdenyut melihat kenyataan hidup. Namun, hanya sampai di mulut saja. Sebab godaan selalu datang menyapa. Akhirnya aku mengukuhkan diri pada kekuasaan, hidup glamour, dan sangat arogant. Aku sadar, bukan kemiskinan yang membuatku kalah, akan tetapi kekayaan yang membuatku lemah. Buta dengan tujuan awal, hilang ingatan terhadap amanah, kabur pada rentetan cita-cita.

Bahagia? I just wanna say, cukup bahagia karena aku menikmati peranku sebagai penguasa, meskipun kala itu tidak bijak bertindak. Mengutip defenisi ayahku, ‘idealismemu saat itu adalah arogansi, Tuhanmu saat itu adalah materi’. Pendapat yang tidak bisa kusangkal, karena benar adanya. Ayah dan orang-orang terdekat, mengatakan bahwa aku bukan ‘dinna’ yang mereka kenal. Mereka kehilanganku. “kala itu, berada di dekatmu, aku seperti terteror dan merasa telah berbuat kesalahan” ujar salah seorang keluargaku.

Its my past. Karirku cemerlang, tapi rupanya keadaan berbanding terbalik, perangaiku tak lebih dari seorang pecundang. Miris sekali. Tanpa kusadari, aku telah lama kehilangan jiwa. Begitulah.. Kemudian aku jatuh dari puncak popularitas dan kekuasaan itu. Berikut pimpinan, kolega, ‘sahabat’, rekan, hingga teman, satu persatu hilang dari peredaran. Mereka tak pernah menjengukku atau menyebut namaku. Bahkan ada yang tega menipu dan sengaja mendiskreditkan. Mungkin itulah balasan setimpal yang harus kutelan.

Kuingatkan pada kalian, apapun ceritanya, keluarga adalah tempat terbaik untuk kembali. Aku pulang. Dan Ayah, menyambutku dengan senyum ikhlas dan tangan terbuka. Di situlah aku baru benar-benar sadar bahwa aku telah dan sangat menyakiti Ayah, juga keluarga. Aku telah menikamkan belati di hati mereka. Aku tahu, tak cukup maaf untuk menebus semuanya.
Sekarang, aku hanya mengamati cerita dan dagelan politik dari jauh arena. Vakum di waktu yang lama, membuatku sangat merindukan dunia yang sudah membesarkanku. Tapi berat untuk mendaratkan kaki ke ‘gray area’ itu lagi. Istilah katanya, jera. Aku tak ingin lagi menyakiti Ayah dan keluarga, serta tak ingin membuat Tuhan murka.

“kembalilah, Nak” sebut Ayah saat aku berbincang dengan lelaki yang selalu diam-diam aku rindukan itu. “setiap hidup, pasti ada godaan dan cobaan. Sebab tak mungkin selamanya jalan yang kita tempuhi, mulus dan lurus. Setiap akan naik kelas, pasti ada ujian”. Ayah selalu memberikan semangat padaku. Tak peduli ia letih dan pernah kecewa dengan sikapku. “Ayah tau, politik adalah jiwa Nana. Kekuasaan adalah ruh yang ingin Nana bangunkan” pelan ayah menyebut namaku. Ia menatapku dalam, membuat hatiku kecut di hadapan lelaki ini, lelaki yang hanya lulus kelas tiga Sekolah Rakyat beberapa tahun silam. “Kembalilah, Nak. Jalani pelan-pelan. Kemarin Allah memberhentikanmu dengan tanganNya atas perantara pimpinanmu, sekarang Ia memberimu kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Tapi ingat, kesempatan hanya datang sekali. gunakanlah kesempatan itu untuk kebaikan”. Ia nyalakan rokok, menghirupnya, kemudian menghembuskan asapnya ke udara. Aku kenal, ini salah satu cara ayah untuk menyamarkan kesedihan. “Ingat-ingat yang telah lalu, jaga-jaga yang akan datang. Ayah percaya, Nana bisa meraih tujuan. Jadi, kembalilah berpolitik Nak”.

Di halaman samping rumah kami berbincang. Tentang masalalu dan masadepan. Namun berita politik dan kekuasaan tak pernah lekang dari lintas pembicaraan. Sekalipun aku jauh dari Ayah, beliau tetap menelponku, mengajak bergosip tentang partai politik, tokoh-tokohnya, atau berdiskusi tentang negara. Sesekali saja Ayah menanyakan kabarku. Sebab Ayah tahu, anak-anaknya adalah orang yang kuat. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, sungguh, aku ingin kembali ke duniaku. Itulah jauh-jauh hari telah ku-azamkan dalam hati, aku akan kembali dengan jiwa baru, style baru, pemikiran baru, juga tujuan baru. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Meski juga tak terlalu berharap untuk dapat berpolitik yang good ethic di bumi Indonesia. Tapi aku akan berusaha.

Ayah, aku tak bisa menjanjikan aku akan lebih hebat dan baik-baik saja. Tak ada yang bisa menjanjikan itu. Akan tetapi aku jauh lebih siap daripada dulu.

0 komentar:

Post a Comment

 
Free Host | lasik eye surgery | accountant website design