c'mon comrade

Tuesday, January 17, 2012

SMK : MEKARNYA KARYA TUNAS MUDA

Beberapa hari belakangan bahkan hingga kini, Mobil Kiat Esemka Rajawali atau Kiat Esemka sebagai hasil karya siswa SMKN 2 Solo dan SMK Warga Solo masih mendengung di telinga. Berbagai pemberitaan mengenai digdaya tunas muda Indonesia ini menghiasi halaman media, baik skala lokal maupun nasional. Bahkan beberapa media asing seperti halnya Aljazeera pun ikut berlomba mewartakan mobil Kiat Esemka yang kini dipakai Walikota Solo, Joko Widodo sebagai mobil dinasnya.

Mengapa Esemka bisa muncul ke permukaan? Apa sebenarnya yang menjadi kelebihan mobil Esemka? Tak lain adalah karena Esemka dibuat dengan konsep SUV yang mampu menampung 7 orang penumpang, muatannya lebih banyak dari kapasitas mobil SUV lainnya.

Terang saja ukurannya sedikit jumbo, dengan lebar 1,69 meter dan tinggi 1,630 meter. Dengan interior yang cukup luas, Esemka mampu memuat lebih banyak penumpang dan barang dengan nyaman. Dilengkapi mesin 1.500cc tipe SOHC dengan multi point injection 4 silinder mesin, Esemka mampu menghasilkan tenaga 105HP pada 5.500 RPM. Meski demikian, kemampuan ini masih kalah dari kebanyakan mobil SUV lainnya. Selain itu, Esemka juga belum dilengkapi dengan fitur airbag.

Cukup menggemparkan mengingat Esemka hadir di tengah-tengah kondisi negara dengan tingkat korupsi yang amat mencengangkan, masalah kriminalitas ibarat kran bocor yang tak pernah berhenti mengucur, diperparah lagi dengan isu pelanggaran HAM dan SARA seperti tragedi Mesuji, Sampang, Bima, dan lainnya.

Mari kita berpindah cerita menuju Sumatera Utara. Meski bukan mobil, tapi setidaknya pelajar SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan Sumatera Utara, mampu menghasilkan sesuatu yang membanggakan, unjuk kebolehan berupa karya nyata yang tidak sekedar karya kata.

Tunas-tunas muda ini telah menghasilkan Ribuan netbook yang ditempel merek SMK Zyrex dengan waktu tak kurang dari 15 menit untuk merakit satu unit. Menurut Atan Barus, kepala Technical support sekaligus guru SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan, sedikitnya sudah hampir 5000 netbook dan Personal Computer (PC) yang berhasil dirakit. Pada Tahun Pelajaran (TP) 2010/2011 lalu, SMK Percut ini mampu menghasilkan rakitan hingga mencapai 2.836 unit netbook. Angka yang semestinya cukup fantastis dan membanggakan meski minim pemberitaan.

Tahun demi tahun SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan terus dipercaya oleh Kemendikbud untuk meng-counter proyek rakit netbook ini hingga TP 2010/2011 dengan nama produk ‘SMK Zyrex.’.

Tak hanya SMK Negeri 1 Percut saja, rupanya masih banyak lagi karya anak bangsa yang bisa dikatakan ‘ciptaan’ tersebut, yang merupakan suatu terobosan signifikan, namun mengendap begitu saja di ruang kerja atau tergeletak pasrah di ruang tanpa kamera (baca: tanpa sorotan media). Seperti penemuan SMKN 2 Medan berupa mesin Computer Neumerical Control (CNC) untuk jenis mesin milling dan late, alat cuci tangan otomatis, dan alat pendeteksi gempa. Atau siswa SMKN 3 Medan yang membuat cairan pembersih lantai, Shampoo kendaraan, Cairan pencuci piring dan lain-lain. Atau juga para pelajar SMK Panca Budi 2 Medan yang mematenkan merek Juman Bakery untuk roti yang mereka buat sendiri dengan tepung mocaf.

Mirisnya, hasil karya tersebut paling banter terdampar di kantor-kantor pemerintahan setempat, dikonsumsi sesama siswa dan masyarakat terdekat, berserak di ruang pameran, bertengger di lapak bazar, tanpa tindaklanjut kepada pengembangan dan penyebarluasannya (baca: penjualan).

Mungkin masih banyak siswa-siwa di luar sana yang karyanya ada, namun tenggelam di antara tumpukan file dan Lembar Kerja Siswa.

Karena itu, sudah seharusnya penemuan yang tak bisa dianggap remeh ini menjadi tugas penting pemerintah untuk lebih andil membakar energi tunas muda dalam menghasilkan sesutu yang bermanfaat bagi rakyat, dimana pemerintah telah ditabalkan sebagai perpanjangan tangan pemuda.

Thus, mungkin saja pemerintah dan stake holdernya masih ‘bingung’ menanggulangi dan mengarahkan hasil karya anak bangsa ini, karena disibukkan dengan mereparasi dan membenahi roda sistem birokrasi sejak ‘ditinggal’ oleh Kepala Provinsi. Atau boleh jadi, masalah kesehatan dan perekonomian menjadi program utama pemerintah, hingga perkara ‘cipta mencipta’ dinomor sekiankan. Ditambah pula kurangnya perhatian dan publikasi dari pihak-pihak terkait tentang hasil ‘kerja otak’ tersebut.

Namun, bersikap positip sajalah. Karena jika positivisme dalam memandang negara ini kita matematiskan, maka saya berada di posisi pertama yang percaya, bahwa Indonesia akan berhasil mencapai kecemerlangan masadepannya, dan Provinsi Sumatera Utara khususnya.

Kendatipun, pelajar-pelajar kita tak seharusnya surut dan mundur dengan kurangnya perhatian dari pemerintah. Jangan pernah salahkan lingkunganmu. Kitalah yang harus bangkit menyemangati diri untuk lebih tangguh meraih impian, dan lebih siap menggapai cita. Sebab berkarya bukan semata untuk dihargai, melainkan untuk mencapai kepuasan diri. Apresiasi memang penting. Akan tetapi lebih penting lagi menjadi sosok bermanfaat bagi umat.

Saya teringat dengan kutipan salah seorang bapak Founding fathers yang juga Presiden pertama Indonesia:

“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno).

Mari kawan! Teruslah berjuang. Biarkan sinarmu menembus dunia, biarkan bias cahayanya berpendar di angkasa, hingga tak seorangpun yang akan sanggup untuk tidak melihat kilaunya.

Thursday, January 12, 2012

cinta, jawablah

Jika rindu adalah warna, dan aku adalah kanvasnya,

Mengapa masih sulit kau bicara rasa?

Dengan menggerakkan kuas, kau bisa membuat pola.

Dengan mengeluarkan suara, kau bisa mengucapnya.

Cinta, Jika esok hari adalah perjuangan terakhir, lantas pada siapa rindu itu akan mencair?

Apakah untukku?

Jawablah,

Meski hanya dengan gerakan kepala

jejak rindu

ke laut

mnghanyutkan kerinduan yg bergelora/biar dihempas gelombang pasang/dipecah karang/dan rindu pun padam/

namun di kejauhan, suaranya masih trdengar/meski samar.

ia bermain-main dalam pikiran/berkelebat dalam ingatan/memaksa mengukir bayang/

rupanya tak mudah menghapus jejak rindu

Wednesday, January 11, 2012

D’ Loft without Love

Sudah begitu akrab di telinga bahwa kota Medan disebut-sebut sebagai surganya para pencinta kuliner. Sampai-sampai setiap selebritis (entah apa bedanya dengan artis) yang ditugaskan ke Medan, pasti meninggalkan jejak ‘kuliner’ di kota ini. Mulai dari pancake durian, bolu Meranti, Bika Ambon, Ikan teri Asin, soto, hingga berbagai jenis masakan nusantara bisa di dapatkan di Medan.

“Rasanya benar-benar menggoyang lidah” begitu pernyataan salah seorang penyanyi ibukota.

Beberapa hari lalu, saya diajak ketemuan sama seorang rekan di Thamrin Plaza Medan. Tempatnya di café D’ Loft. Seumur-umur, baru sekalinya saya menapak di café tersebut. Kalau ke Thamrin Plaza-nya sih sudah kali kelima. Itupun hanya numpang lewat karena mau take a pict, beli baju Nike yang lagi sale, dan nonton di bioskop on private party bersama dua orang teman perempuan.

Nah, café D’ Loft ini tampaknya telah memikat hati saya. Meski rame, tapi suasananya cukup cozy untuk makan dan mingle. Letaknya di lantai 7, posisinya agak menjorok ke belakang, dan ada jendela kaca transparan di sisi kanan (sisi kanan persis saat kita masuk ke dalamnya).

Rupanya rekan saya tadi sampai lebih dulu. Ia mengambil meja di sisi kanan dekat jendela kaca. ‘Punya taste bagus juga si kawan ini,’ gumam saya dalam hati. Saya menyapanya sambil menyedekahkan sebaris senyum. Ini pertemuan pertama kami, -saya dan beliau- setelah sebelumnya kami chit and chat di ranah maya. Facebook namanya. Tak sekedar kopdar (kopi darat), ada agenda dan program penting yang akan kami tindaklanjuti seperti yang telah pernah kami bincangkan di sms.

Seperti yang telah saya katakan tadi, café D’ Loft ini menarik perhatian saya sejak melangkahkan kaki pertama hingga beranjak dari duduk. Paling menggoda adalah jendela kaca transparan itu. Kebetulan, posisi duduk saya menghadapnya. Jadilah saya begitu asik memperhatikan kota Medan di atas ketinggian.

Langit berwarna kuning kemerahan, bias dari matahari yang menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat. Saya bisa menyaksikan langit senja yang mulai ditingkahi awan hitam, sekawanan burung gereja berarak pulang, dan satu persatu kelelawar bermunculan.

Di sana, pemandangan sederhana bisa saya saksikan. Ada jemuran yang masih menggantung padahal cuaca saat itu sedang gerimis tipis, menara SUTET yang sering dijajal para pemanjat amatiran, taman buanga sederhana milik etnis Tionghua, dan sampah bertumpuk di sudut kiri beranda.

Tempat yang seharusnya asik untuk santai dan bercengkrama. Apalagi jika dihabiskan dengan menulis imajinasi. Sudah bisa saya bayangkan betapa kerennya bila saya berada di sana pada saat yang tepat, dan sendiri tentu saja.

Sepertinya, setelah agak lama saya duduk di sana, ada sesuatu yang sejak tadi mengusik ketertarikan saya. Semangkuk es campur yang isinya telah tandas dimangsa berbanding terbalik dengan keadaan saya yang dahaga selama 3 jam duduk bersama. Si kawan ini sekalipun tidak menawarkan saya sesuatu untuk dikunyah. Bukan berarti saya tidak bisa mengambil/membayar makanan sendiri, hanya saja saya tidak rela jika memamahbiak di depan seseorang, dan ia hanya bisa menyaksikan sambil menelan ludah.

Akhirnya, selama tiga jam di café D’ Loft saya lalui dengan percuma. Bicara tak ter-skema, dan keadaan seperti puasa.

***

Medan-Jakarta: via social media di suatu ketika

'(gak semua yang lo dengar itu benar)'

“nanti kita ketemuan di Medan ya, Def” saya tahu, dari balik suaranya mentakrifkan bahwa ia girang hendak bertemu saya.

“boleh saja. Dimana?” tanya saya.

“Def mau di mana?” jawab beliau.

“mana saja boleh” tulis saya cepat sambil menambahkan tanda bintang: *asaltidakditempatmaksiat*

“hahahaa…” ia tertawa, dan sepuluh detik kemudian tertulis di sana kalimat panjang, “di Swiss Bell Resto, di Thamrin Plaza, di Sun Plaza, di Nelayan Merdeka Walk, di TransJakarta, atau di tempat manapun yang Def mau, akan saya laksanakan. Kalau ke bulan disediakan pengangkutan dan tempat makan, saya pun akan membawa orang sekeren Def kesana.”

Saya terkesiap mendengarnya. Mendesir darah muda saya dibuat si kawan ini. Padahal belum bertemu, sudah berani pula ia menjanjikan macam-macam. Apa tak terlalu gombal?

***

Medan-Johor: nomor 22

Penat. Termangu saya mengingat-ingat tragedi di cafe D' Loft tadi. Entah apa salah saya pada alam. Setiap bertemu kenalan baru, seringkali saya dihadapkan pada kenyataan bahwa orang-orang pelit bin kedekut rupanya masih ada di muka bumi.

Tuhan, Salah saya apa ya… Padahal jika kebaikan itu dimatematiskan dari 1 sampai 10, saya ini berada di urutan ke-7 lohh… Cukup penyantun di kalangan para kawan dan kolega.

 
Free Host | lasik eye surgery | accountant website design