c'mon comrade

Tuesday, August 30, 2011

Happy 'Eid Mobarraq

Malam aidil fitri 1432 H. Aku berlebaran di kampung, tepatnya di Tanjungbalai. Kota kecil dimana aku dilahirkan. Karena sebagian besar masyarakat di kampungku beragama islam, jadi cukup ramai orang yang merayakan idul fitri. Pemeluk agama Kristen dan budha pun ikut serta. Mereka merasakan kegembiraan pada tiap sudut dan ruang.

Kenderaan lalu lalang di depan rumahku yang terletak persis di pinggir pasar. Mulai dari mobil jenis city car, mobil keluarga, mobil pick up, hingga sepeda motor terkeren dan terbutut yang knalpotnya sangat berisik dan menyebalkan seperti kentut. Mereka memekikkan takbir lewat pengeras suara. Ada yang diteriakkan dengan suara langsung, ada juga yang digemakan dari tape recorder. Liriknya tak jauh berbeda. Namun nadanya jelas tak sama. Ada yang sumbang, dan adapula yang merdu.

Di depan rumah aku duduk sendiri. Oya, bersama netbook dan handphone tentunya. Puisi dan pantun idul fitri mulai berdatangan memenuhi inbox. Mulai dari yang serius, santai hingga lebay. Banyak juga salam lebaran itu yang berbunyi sama dengan kata-kata sebelumnya. Bisa kutaksir, mereka ini hanya copy paste saja. Biar lebih praktis dan tidak buang waktu.

Malam ini sangat meriah. Malam kemenangan bagi seluruh umat islam terlepas dari mereka yang puasanya full atau setengah. Semua umat bersuka cita menyambut hari raya, namun di sisi lain bersedih karena telah berpisah dengan bulan puasa.

Begitupun aku, haru dengan suasana ini. Memikirkan saat ketika puasaku banyak bolongnya. Bukan saja dikarenakan kondisi kewanitaan yang memang mengharuskan aku untuk tidak berpuasa, akan tetapi juga karena alasan klasik yang kuciptakan bahwa aku sangat haus dan sangat lapar kala itu. Namun, bukankah itu hal biasa bagi orang berpuasa?

Semoga aku bisa bertemu dengan bulan Ramadhan kedepan, dengan jiwa yang mantap dan dada yang lapang. Tentunya dengan seseorang yang pantas mengisi hatiku, lelaki yang halal bagiku, yang Allah pilihkan dan meridhoinya untukku. Amiinn…

Saturday, August 27, 2011

Laundry: ada rupa ada harga.

Rumah kontrakanku letaknya di perumahan Johor. Masih di kota Medan juga. Lingkungannya cukup lah. Cukup menyebalkan maksudku. Keadaan ini diperparah lagi dengan airnya yang berwarna coklat kekuningan. Berbau besi pula. Otomatis, jika mencuci pakaian, warnanya akan sama dengan warna air. Apalagi jika mencuci pakaian putih. Tamatlah riwayatnya. Jalan akhirnya, jadikan saja kain lap kompor atau alas kaki. Nah, alasan inilah yang membuatku berani menyinggahkan 24 potong pakaian ke laundry.

Tapi, jangan kira me-laundry pakaian bisa sesuai dengan yang kau inginkan dan dapat mengikuti seleramu. No, mate. Jika kau ingin bersih, jelas-jelas itu mustahil. Sebab laundry hanya menyediakan jasa cuci dengan mesin cuci. Wangi? Tentu saja ada empat jenis wewangian yang bisa kau pilih. Wangi tisu, bunga mawar, jeruk, dan citrun. Saat kau membuka plastik laundry yang membungkus bajumu, maka wewangian itu langsung menusuk tajam ke hidungmu. Kemudian, dengan polosnya kau katakan pakaianmu bersih.

Kusarankan, coba check seluruh pakaianmu setelah kau mengambilnya dari laundry. Perhatikan ujung bawah celana, pinggang dan pisaknya. Setelah itu baju. Lihat pada kerah, bagian leher, dan ujung bawah baju. Jelas saja kau akan melihat warna hitam samar-samar. Bercak-bercak dan noda bandel masih menempel. Akan lenyap jika dicuci dengan tangan, bukan mesin cuci yang kerjanya hanya mengobok-obok dan memutar seluruh pakaian.

Begitu yang terjadi dengan pakaianku yang baru saja kuambil dari tempat laundry LKS (laundry kita semua) di dekat rumah. Sangat mengecewakan.

“itu tak akan terjadi jika kau mengantarnya ke Verona. Tempat laundry eksklusif di kota sana” kata Def, teman imajinerku. Kumajukan mulutku dan mendelik ke arahnya. Kupikir Def benar juga. Aku me-laundry pakaian ke tempat laundry murahan, jasa laundry yang biasa digunakan mahasiswa kampung yang mana kulihanya dibiayai oleh pemerintah lewat beasiswa. Enam ribu perak per-kilonya. Jadi, sesuai dengan butir-butir ekonomi, ‘ada rupa ada harga’, itulah yang berlaku di duniaku sekarang ini.

“ya, aku tahu. Tapi di tempat laundry lain gak separah ini!” belaku sambil berdoa agar aku diberkahi Allah rezeki yang berlimpah-limpah dan karunia yang tak putus-putusnya.

Friday, August 26, 2011

sulit dimengerti

Pemecatan itu, tak berdampak buruk pada jiwaku. Tak ada hal rumit dan tak perlu dirisaukan. Biasa saja. Sebab sudah sejak awal kuramalkan akan terjadi pemberhentian secara sepihak oleh perusahaan. Tentunya diembel-embeli alasan yang entah mengapa sampai saat ini tak bisa kumengerti. Tapi begitulah. Hidup acapkali mudah ditebak, namun terkadang teramat sulit untuk dimengerti.

Aku turuti permintaan redakturku, keluar dari perusahaan media tempat aku bekerja. Terima tidak terima, kalau sudah pemilik yang bicara, seorang pekerja hanya bisa tertawa nan tak lega dan itupun masih dijejali dengan seribu tanya. Mengapa? Kok bisa? Apa yang terjadi? Benarkah?

Bagaimanapun, hidup harus terus berlanjut. Rezeki datang darimana saja dan kapan saja jika mau berdoa dan berusaha.

“kok bisa ya gue dipecat? Keren amat yakk”. Till now, was thinking bout that. Mesi tak sedih, kasus ini mengganggu isi dompet. Semoga saja tak mengganggu hubunganku dengan keluarga terutama adik-adikku. Semoga saja mereka tak menganggapku kecil, sepele, dan malang. Semoga saja mereka tak menjadikanku Upik Abu. Semoga saja banyak hal lebih baik yang menunggu. Amiinn…

By the way, malang apa keren ya? Haahh… dunnolah. Lebih baik tidur. Lelah rasanya. Apalagi tadi sempat menahan perasaan agar tak marah. Tuhan… save my life. Kuatkan aku ya…

Thursday, August 25, 2011

diistirahatkan

“ayo bang, buka rapatnya” ujar Redakturku . Saat aku menuliskan cerita ini, lelaki berperawakan gendut itu sudah mantan redakturku. Sebut sajalah namanya Rino.

“eh, kok aku?” jawab kepala kantor. Aku tak tahu tepatnya posisi beliau ini sebagai apa dan divisi apa. Selama aku bekerja di sana, lelaki separuh baya itu datang siang hari, pulang sebelum ashar. Kerjanya, menginstal komputer, mendownload server, dan acapkali kudapati ia menyapu halaman dan pernah pula mencuci piring. Aku kurang paham aku apa tufoksi beliau. Sebab, manajemen organisasi di kantor tempatku bekerja, tidak mengenal adanya struktural. Tapi kupikir, jangan-jangan mereka memang tidak menginginkan adanya struktural profesional agar posisi tak bergeser.

Perusahaan keluarga? Tidak juga. Karena tak seorangpun pekerja, mulai dari kanvaser, fotografer, administrasi, promosi, marketing hingga wartawan, berhubungan famili dengan owner perusahaan. Bau kunyit pun tidak. Setahuku, lelaki gendut yang berprofesi sebagai redakturku tadi, sudah kenal lama dengan ownernya. Bahkan sejak perusahaan yang berkonsentrasi di bidang media (tabloid fashion) itu dibuka. Begitu pula dengan lelaki separuh baya yang aku tak tahu kerjanya. Beliau adalah teman dekat owner semasa SMA.

“kau lah. Jangan aku”. Lanjut lelaki paruh baya tadi. Aku tulis saja namanya Deni.

Bingung aku dibuat ulah dua orang lelaki ini. Sangat bertele-tele dan terkesan takut menyampaikan sesuatu. Padahal tampangku cukup tegas untuk mendengar segala hal berbau kepedihan dan kabar buruk. Aku menoleh keduanya, heran. Padahal rapat khusus ini dijadwalkan kemarin, tepatnya hari selasa, 23 Agustus 2011, pukul 03.30 pm. Tapi diundur menjadi hari rabu, karena lelaki paruh baya tak bisa datang. Aku terlalu lama menunggu ‘rapat penting’ yang mereka agendakan. Hingga saat itu tiba, rapat masih ditunda. Akhirnya ‘rapat penting’ itu terlaksana pukul 05.45 pm.

“abanglah. Buka dulu rapatnya” kata Rino.

“ya udah, kalau gak ada yang mau buka rapat khusus ini, biar aku yang buka dan mulai ya”. Tegasku hingga membuat mereka tersentak. Segera Deni angkat bicara.

“assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Ucapnya pelan dengan lapadz ‘r’ yang tak sempurna. “Berhubungan dengan rapat ini diadakan, karena ingin menyampaikan hal penting”. Singkat saja, kemudian ia mengarahkan tangannya pada Rino. “Baiklah, silakan dilanjutkan”.

“sebelumnya, kita minta maaf karena kerjasama dengan Naina kita cukupkan sampai di sini”. Aku yang sudah feeling dari sebelum cerita ini terjadi, datar-datar saja, tidak merasakan sentakan. “terimakasih juga dengan sumbangannya untuk Tabloid Youngs Medan”.

“Ohh… rapat untuk pemecatan. Bilang yang tegas donk bang. Berita pemecatan bukan untuk diundur dan dimain-mainkan. Tapi itu berita penting”. Aku tertawa wajar, untuk menenangkan situasi dan melumerkan ketakutan antara mereka. “intinya aku diberhentikan dari sini kan”.

“iya” jawab Rino. “alasannya, karena tulisanmu gak bagus, gak pantas di tabloid ini, dan gak seperti yang aku inginkan”.

What? Gak bagus katanya? Alasan yang dibuat-buat. Sebulan setelah aku bekerja di sana, aku sudah tahu kalau Rino tendensius padaku. Di tulisan terdahulu, sudah aku katakan bahwa aku selalu diberikan pertanda tentang apapun yang terjadi dalam hidupku. Sangat peka menangkap gelagat, sangat perasa pada tiap orang berbuat. Dan Rino, ia tak suka padaku. Ia takut aku mengambil posisinya. Ia takut terancam akan di depak dari perusahaan yang memang sering sakit perut itu. Mengambil istilah dalam kedokteran, perusahaan itu sudah mengidap muntaber jauh sebelum aku menjadi kuli tinta di sana.

“paling fatalnya, waktu ada liputan gadget, tapi Nai menolak untuk liputan. Padahal seharusnya wartawan harus siap 1x24 jam kapanpun dibutuhkan” tambahnya. “di sini memang tidak ada surat peringatan atau teguran, tapi evaluasi kerja dan tulisan. Kinerja dilihat tiga bulan kedepan sejak bekerja”.

Aku ingat, kira-kira lima hari lalu, ia menyuruhku liputan gadget (peluncuran ponsel merk Next-G) di Komplek Asia Mega Mas. Namun aku menolaknya. Aku punya alasan untuk itu. 1. Sangat mendadak, karena ia menugaskan liputan itu pukul 05.45 pm. 2. Aku juga ada liputan Danone Aqua di Swiss Bell. 3. Tulisan yang kukirim juga sudah banyak, melebihi tugasku. 4. Rupanya hanya aku yang ia tugaskan. Padahal masih ada satu wartawan lagi (lelaki), namun tidak ia kabari. 5. Aku mau buka puasa.

Oya, sebelum cerita pemecatan aku lanjutkan, aku beritahukan sedikit sejarah perusaan. Singkatnya, sudah dua tahun perusahaan itu berdiri, namun masih makan dari uang subsidi. Menyedihkan memang. Tak ada vendor atau provider yang bernyali beriklan di sana. Sebab oplahnya kecil, cuma 3000, tak lebih. Parahnya lagi, pembacanya minim dan sangat sedikit masyarakat mengenal nama Tabloid ini. Jujur saja, aku punya pegalaman memalukan ketika wawancara dengan narasumber. “baru dengar saya nama tabloid ini” ujar beberapa dari mereka. Mereka pikir, aku wartawan gadungan.

Miris. Namun ketimpangan itu disebabkan tidak adanya manajemen organisasi, hilangnya standar operasional prosedural serta tidak adanya tugas pokok dan fungsi. Sering rapat diadakan, tapi berhujung pada curhat colongan. Jauh dari aksi membahas masa depan perusahaan. Lagi-lagi tanpa berniat subjektifitas personal dan tendensius internal, ini adalah kesalahan atasan atau owner perusahaan. Sangat tidak tegas memimpin, tidak terlalu peduli, tidak mengayomi, kurang ide cerdas, serta tidak memahami perusahaannya sendiri. Aku sangat menyayangkan hal ini. Tapi apa boleh buat, aku hanya kuli tinta di sana.

Sejak awal, aku sangat tahu sikap Rino padaku. Memang ia tak pernah bicara, tapi aku pandai merasa. Begitulah. Mungkin ia tahu kalau aku sangat kritis dan frontal meski sikap itu aku samarkan. Sebodoh-bodohnya manusia, tapi ia pasti punya sinyal jika dirinya dalam keadaan bahaya. Kemudian, ia ciptakan alasan untuk mendepakku.

“bang Harun (owner) sedang umroh memang. Tapi ini sudah aku bicarakan. Katanya semua diserahan padaku, dan beliau hanya menunggu hasilnya”. Sepanjang ia bicara, tak sekalipun ia menoleh ke arahku. Bukan apa-apa sih. Katanya ia terkena penyakit salah tidur hingga menyebabkan kepalanya miring ke kiri. “okey, bang Deni ada yang ingin disampaikan lagi?”

“gak ada. Aku sih ikut redaksi aja. Kalau begitu keputusan redaksi, ya sudah”. Ujar Bang Deni. Aku hanya tersenyum. Mereka begitu grogi berhadapan denganku. Kurasa aku semakin tangguh menjalani hidup. Lebih siap, juga lebih ikhlas. Mungkin itu sebabnya mereka kehilangan kendali hingga grogi bicara padaku. “tapi Nai seringlah main-main kesini”.

“main apa bang?” tanyaku mencoba mengerti maksud perkataannya. “apa boleh main internet sepuasnya?” kupertegas pernyataan dengan tanya sambil menyelipkan tawa. Tapi bang Deni diam seribu bahasa. Keceplosan bicara kali ya.

Untuk menebus rasa malu dan bersalah, harusnya tak seperti itu. Biasa-biasa sajalah. Kaku sekali mereka. Aku yakin, bahwa pemberhentianku sama sekali tak ada hubungannya dengan tulisan dan kinerja kerja. Sekali lagi, aku yakin dengan keyakinanku. Hanya Tuhan, aku, dan pembaca tabloid yang tahu bagaimana tulisanku dan semampu apa aku menembus nara sumber. Untuk berkoar-koar di sini, rasanya terlalu picik dan merusak citra.

Jadi, alasan tersebut, hanya direka-reka saja supaya aku out. Sebab tidak mungkin kan, kalau pemecatan didasarkan pada rasa tendensius dan kebencian?

“tapi kita juga terima tulisan-tulisan Nai di tabloid ini. Juga usul dan idenya” ucap Rino. Tak ada rasa malu di wajahnya ketika mengucapkan itu. Padahal baru saja ia mengucapkan bahwa tulisanku tidak bagus dan tidak pantas untuk tabloid itu. sungguh kesalahn yang fatal.

Selain itu ia juga meminta ide dan pemikiranku. Kalian dengar itu? Apa dia pikir ide, pemikiran dan gagasan bisa diperoleh cuma-cuma alias gratis? Buah pikiran itu sangat mahal harganya sodara-sodara. Berani bayar berapa mereka dengan ide-ideku yang hampir selalu jitu dan segar itu? Huhh…! Idiot…!

Dan menerima cerpen pula katanya? Dibayar pake baju kaos bertuliskan Tabloid Youngs Medan yang harganya 20 ribu itu? Sorry ya…! Aku punya banyak stok kain lap di rumah.

Akhirnya, aku resmi diberhentikan setelah bekerja selama empat bulan. Keren ya. Track record yang luar biasa. Mungkin ayahku akan tertawa mendengar berita ini. Atau mungkin ia akan geleng-geleng kepala? Sulit diterka. Orang yang cukup sulit aku selami perkataan dan tindakannya adalah ayahku. Beliau sangat misterius, pelit bicara. Makanya unpredictable. Tapi aku tak pernah berhenti belajar mengikuti gayanya.

Well, kemana langkahku selanjutnya? Nantikan saja ya. Akan aku kabarkan pada kalian. Jangan takut, aku semakin terbiasa menghadapi perit hidup. Pemecatan itu, keripik lah. Masih jauh dari apa yang dulu pernah kurasakan saat terjerembab dari puncak kekuasaan.

Yang pasti akan ada cerita seru, mengharu biru.

Love

Na


Wednesday, August 24, 2011

pertanda

Entah mengapa, aku tahu bagaimana ‘cerita’ hidupku kedepannya. Maksudku, bukan ingin menyerupai Tuhan apalagi mengingkarinya. Tidak. Seluruh hidupku, hanya Tuhan yang tetapkan dan memiliki rahasia padanya. Tapi aku kerap tahu perjalanan hidupku dan apa yang terjadi di dalamnya.


Masih bingung? Baiklah, aku perjelas.


Begini, aku selalu diberitahu pertanda akan terjadi sesuatu. Misalnya, aku tahu kapan akan jatuh saat berjalan, aku tahu tanda-tanda akan dapat rezeki, aku tahu tanda-tanda akan sedih, aku tahu apa yang terjadi denan orang-orang di sekitarku, dan parahnya, aku bisa melukai orang yang menyakitiku, (sejauh ini hal itu sering terjadi) dan sebagainya.

Apa ada seseorang aneh di luar sana yang sama denganku?



Well, lanjut ya.


Saat dimana tangan kiriku gatal, maka rezeki akan datang. Tapi kalau tangan kanan, bersiaplah isi dompet terkuras, alias uangku menipis karena ‘terpaksa’ membelanjakan sesuatu tanpa diduga-duga. Kemudian mata kiriku berkedip-kedip, maka akan datang hal baik. Tapi kalau mata kananku berkedip-kedip, akan ada kejadian buruk. Kalau telinga kiri berbunyi, akan ada hal yang manis. Tapi kalau telinga kanan yang berbunyi, aku pasti gelisah karena akan ada masalah. Kalau ketawa terus-terusan (padahal yang diketawain juga biasa dan sama sekali gak ada lucunya), maka bersiaplah menerima kabar buruk.


Selanjutnya, aku juga sangat peka dengan segala hal. Seperti ketika temanku membenciku, aku tahu. Ketika ada yang gak suka denganku, aku juga tahu. Dan ada yang sampai ingin mencelakaiku, pun aku tahu.


Terus, aku juga bisa menebak dan meramal masa depanku. Apa, mengapa dan bagaimana. Hampir detil. Dan orang-orang dalam masa depan itu, watak dan perawakannya juga gak jauh menyimpang dari gambar nyatanya. Terkadang, aku juga takut dengan keadaanku *apa bisa dibilang kelebihan?*. Karena gak ada penangkalnya. Yang aku lakukan hanya sholat.dan berdoa. Tips manjur untuk menenangkan pikiran dan hati. Sebab untuk menolak segala kejadian itu, aku tak cukup mampu. Setelah itu *kalau masalah dan kabar buruk datang* aku hanya menangis dan merenungi hidupku sendiri. Atau paling tidak, aku akan membangunkan Def, sahabat imajinerku.


Namun acap kali segala pertanda itu kuabaikan. Pura-pura tak merasa, menentang insting dan bisikan hati. Hasilnya, yang kuperkirakan tetap saja terjadi. Aku sok hebat, terkadang.

Okey, Tuhan punya kuasa atas segalanya. Aku mau apa? Mungkin di samping ramalan itu, jauh hari sebelumnya takdir telah dituliskan atas namaku. Menolak takdir? Aku hanya seorang hamba, tak ada kekuatan terlebih lagi niat untuk menandingiNya.

Tuhan, aku menerima apapun yang Kau takdirkan untukku. Pintaku, jadikan aku lebih kuat atas setiap ujian dan cobaanMu, jangan palingkan wajahMu dariku, tambahlah rasa imanku padaMu, berikan jalan untukku menggapai kegemilangan hidup.


Na


Saturday, August 20, 2011

Marah

“Bahkan orang jenius terbaik pun tak selalu bisa mengontrol emosi mereka” kulempar pandang ke danau buatan yang terletak di pinggir perpustakaan. Sebenarnya danau ini cantik. Tapi karena kurang terawat, jadi tak begitu sedap dilihat. Dedaunan kering yang berguguran jatuh ke dalamnya. Airnya hijau dan dindingnya dipenuhi lumut. Sangat mengganggu pandangan mata. Herannya, sekawanan ikan kecil –menurutku jenis ikan gabus- menari-nari di sana. Menimbulkan riak-riak kecil yang menghapus cermin diriku.

“ber-apoloji?” tanya Def, sahabat imajinerku. Def selalu hadir dalam setiap jeda hidupku. Di kala aku lelah dan butuh ‘tong sampah’. Tepatnya, aku sengaja menghadirkannya. Kami, -aku dan Def- sering perang argumentasi. Def kerap memberikan pertanyaan di luar nalarku. Komentar-komentarnya kritis, pedas dan cukup menggelitik. Kadang kala ia mencercaku habis-habisan, menertawai, dan mengatakanku bodoh. Ada saatnya pula ia tak mau kutemui. Alasannya sedang bersemedi.

Di hadapan Def, aku bisa jujur dan terbuka tentang masalahku. Aku percaya pada objektivitasnya dalam menilaiku. Namun bukan berarti aku tak pernah bicara dan berkeluh kesah pada orang lain. Hanya saja, aku merasa nyaman berkisah pada Def. Ia tak pernah menggurui, sok tau, dan belagak dewasa.

“aku tak pernah berapologi tentang karakterku Def. Aku ingin perubahan dalam hidup, agar kedepannya lebih mature dan bijak”. Kupandang cicak di atas langit-langit kamarku. Seakan tahu apa yang kupikirkan, ia pun berbunyi. Padahal aku sedang bicara dengan Def.

“apa menurutmu marah itu baik?” Def melayang-layang di udara. Ia tersenym jenaka. Kalau tak mengingat ia maya, ingin rasanya kubenamkan kepalanya ke dasar danau buatan, kemudian menahan kepalanya 5 hingga 10 detik, agar ia mau serius dengan pembicaraan kami. Oh, kuralat. Kalau tak mengingat ia adalah aku, ingin kupecahkan kepalanya pakai palu.

“tentu saja tidak. Tapi aku tidak bisa lagi mengendalikannya. Habis sudah kesabaranku menghadapi anak itu. Dan di saat aku marah itu, adapula rekanku yang nyolot. ‘dia kan Cuma bertanya, kak’, ujarnya. ‘kok marah-marah kak. Puasa ini. Minum la, udah batal tuh puasanya’ begitu katanya. Aku merasa emosiku dipermainkan, Def. Kupikir-pikir, siapa pula dia hingga berhak menghakimi puasaku. Sudah tahu dia parameter batalnya puasa rupanya? Apa sudah paham dia kadar iman seseorang? Tuhan saja tak pernah menjustifikasi sekasar itu tanpa melihat sebab musababnya”.

“trus?”. Bahh… berpanjang lebar aku bicara Def hanya bertanya satu kata singkat saja?

“well, sekarang kutanyakan padamu, apakah kau tak terganggu manakala ketika kau marah, orang-orang di sekitamu ikut bicara dan memainkan emosimu?”

“jelas saja aku terganggu. Bahkan aku tak suka jika aku belum selesai bicara, ada yang menyela”.

“nah, so what? Tindakanku sudah benar kan?” tanyaku sambil mengangkat kedua tangan setinggi dada dengan telapak membuka.

“aku paham permasalahanmu dan cukup mengerti perasaanmu, Na. Meski demikian, aku tak bisa membenarkan. Maksudku begini. Kita sama-sama tahu, marah adalah sikap yang sangat sulit di tahan. Namun marah harus dihindarkan walaupun dalam keadaan ‘sudah pantas’ marah. Bahkan berkali-kali telah diingatkan Allah dalam Al-quran, yang kalo aku tak salah bunyinya begini”. Kulihat Def berusaha mengingat-ingat firman Allah.

‘(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan’. (QS. Ali Imran - 134)”

‘Makin hebat nampaknya si Def ini’. Aku bergumam sendiri.

“Sampai-sampai Nabi Muhammad pun turut mengingatkan perihal marah ini berkali-kali”, tambah Def.

‘Dari Abu Hurairah Radliyallaahu‘anhu bahwa ada seseorang berkata: Wahai Rasulullah, berilah aku nasehat. Beliau bersabda: “Jangan marah.” Lalu orang itu mengulangi beberapa kali, dan beliau bersabda: “Jangan marah.’ (Riwayat Bukhari).

“Dan untuk kejadian yang kau hadapi barusan, aku juga tidak akan menyalahkanmu. Silahkan jika menurutmu itu wajar. Sudah terjadi, untuk apa disesali. Kau hanya perlu menyadari dan berjanji, kelak marah tak akan kau lakukan lagi. Karena akan banyak orang yang tersakiti ketika kita marah. Lagipula, efek marah hampir selalu tak baik. Whatever, aku salut padamu karena langsung minta maaf saat kejadian itu. Tindakan yang sangat berani, girl”.

Aku tahu, Def tulus mengucapkan kalimat terakhir itu padaku.

“selanjutnya, kau harus belajar menyesuaikan diri dengan ‘sikap’ orang lain Na. Karena tak semua orang di dunia ini, meski usia dan gelar bertambah, cukup peka, mengerti, bijak dan dewasa. Beruntunglah kau yang dilimpahi Allah dengan sikap pengertian, peduli, dan berakal”.

Mendengar ucapan Def, aku jadi teringat nasehat almarhum atok. “banyak manusia, tapi hanya sedikit yang pandai menggunakan akalnya”. Itu juga yang diulang-ulang ayah saat menasehatiku.

“bukan berarti aku mengatakan rekan-rekanmu itu tak berakal. Tapi, beruntunglah kau dilahirkan oleh orangtua yang cerdas, didekatkan dengan orang-orang cerdas dan berakal pula” kata Def lagi. “jadi, alangkah buruknya jika bekal itu kau lunturkan hanya dengan amarah”.

Kemudian aku memeluk Def, terharu dengan nasehatnya. Tapi aku mendapati bahwa aku malah memeluk diriku sendiri. Entahlah, yang jelas Def membuatku lebih baik.

“terimakasih Def” ujarku pelan agar tak terdengar orang dan juga supaya mereka tidak menyebutku gila.

***

Tips agar tidak marah yang kuambil dari berbagai sumber:

* Baca ta’awudz (a’udzubillahi minasy syaithoonir rojiim) sebab setan membisikkan manusia untuk berbuat dosa termasuk marah. Berlindunglah terhadap Allah.
* Bersabarlah. Tahan kemarahanmu
* Diamlah
* Jika berdiri, duduklah.
* Jika masih marah, berwudlu’-lah
* Jika terpaksa bicara, beritahu dengan cara yang benar. Misalnya: Kalau melakukan ini caranya begini sambil memperagakannya. Jangan panjang-panjang cukup 2x. Kalau kesalahan masih terulang, ulangi lagi nasehat tersebut. Hindari menggelari orang dengan sebutan yang kita sendiri tidak suka, seperti bodoh, dan sebagainya.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” Muttafaq Alaih.

Semoga kita bisa mendapatkan Ridho-Nya. Amiinn ...

lebih siap

Setahun sudah hingar bingar politik kutinggalkan. Meski tidak total, tapi aku tak lagi terjun ke dalamnya seperti dulu, sewaktu masih berperan aktif di Gerindra. Berkeliling daerah, besosialisasi dengan masyarakat, mengadakan pertemuan mulai dari pusat, cabang, ranting, hingga simpatisan, rapat dari pagi hingga dini hari, berkusut masai mengatur strategi, memaksakan kampanye di kandang sendiri hingga kandang rekan lain dan sesekali harus nginap di rumah sakit gara-gara terlalu sibuk hingga tak memperhatikan kesehatan. Di hari lain, aku harus pula menghadapi pertanyaan dari para wartawan dan pernyataan dari semua orang-orang yang ingin tahu tentangku, atau sekedar ingin memprovokasi.



Tentu saja letih, mengingat banyaknya masalah dan kerja menyita pikiran. Belum lagi fitnah yang kerap singgah, memaksaku melakukan ‘character surgery’. Aku menjelma menjadi seorang yang kejam, tak berperasaan, nakal, dan benar-benar menjijikkan. Sangat celaka, aku bahkan hampir tak mengenali diriku sendiri. Aku jauh dari Ayah, sosok yang menunjukkanku jalan berkuasa, jauh dari keluarga. Parahnya, aku sangat jauh dari Tuhan, inspirasi terbesarku. Jiwaku kosong, pikiranku kacau, hatiku hampa meski ragaku utuh dan elok.

“perfect lady dengan emblem keberuntungan dan dekat dengan di lingkar kekuasaan”, Jonas, rekan dari DPD PPRN menyebutku begitu. Aku mengenalnya di kantor Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utara, jelang verifikasi partai. Kekuasaan, apapun bentuk dan kondisinya, memang sangat mempesona.

Sangat bangga aku dengan sebutan itu. Di sekelilingku, banyak tawaran kerja dan permintaan menjadi fungsionaris organisasi berdatangan. Bahkan sangat menggiurkan. Aku tahu, alasan mereka memilihu, karena aku muda dan penuh semangat. Belum lagi tawaran perjodohan atau merekomendasikan diri ingin jadi pacar. Namun kutepis, karena bersinggungan jadwal dengan partai. Walau sebenarnya itu bukan alasan utama. Anyway, jika aku sudah benar-benar siap, kelak akan kuceritakan mengapa aku melakukan penolakan demi penolakan.

‘who am i?’ satu kalimat yang hampir selalu muncul saat hatiku berdenyut melihat kenyataan hidup. Namun, hanya sampai di mulut saja. Sebab godaan selalu datang menyapa. Akhirnya aku mengukuhkan diri pada kekuasaan, hidup glamour, dan sangat arogant. Aku sadar, bukan kemiskinan yang membuatku kalah, akan tetapi kekayaan yang membuatku lemah. Buta dengan tujuan awal, hilang ingatan terhadap amanah, kabur pada rentetan cita-cita.

Bahagia? I just wanna say, cukup bahagia karena aku menikmati peranku sebagai penguasa, meskipun kala itu tidak bijak bertindak. Mengutip defenisi ayahku, ‘idealismemu saat itu adalah arogansi, Tuhanmu saat itu adalah materi’. Pendapat yang tidak bisa kusangkal, karena benar adanya. Ayah dan orang-orang terdekat, mengatakan bahwa aku bukan ‘dinna’ yang mereka kenal. Mereka kehilanganku. “kala itu, berada di dekatmu, aku seperti terteror dan merasa telah berbuat kesalahan” ujar salah seorang keluargaku.

Its my past. Karirku cemerlang, tapi rupanya keadaan berbanding terbalik, perangaiku tak lebih dari seorang pecundang. Miris sekali. Tanpa kusadari, aku telah lama kehilangan jiwa. Begitulah.. Kemudian aku jatuh dari puncak popularitas dan kekuasaan itu. Berikut pimpinan, kolega, ‘sahabat’, rekan, hingga teman, satu persatu hilang dari peredaran. Mereka tak pernah menjengukku atau menyebut namaku. Bahkan ada yang tega menipu dan sengaja mendiskreditkan. Mungkin itulah balasan setimpal yang harus kutelan.

Kuingatkan pada kalian, apapun ceritanya, keluarga adalah tempat terbaik untuk kembali. Aku pulang. Dan Ayah, menyambutku dengan senyum ikhlas dan tangan terbuka. Di situlah aku baru benar-benar sadar bahwa aku telah dan sangat menyakiti Ayah, juga keluarga. Aku telah menikamkan belati di hati mereka. Aku tahu, tak cukup maaf untuk menebus semuanya.
Sekarang, aku hanya mengamati cerita dan dagelan politik dari jauh arena. Vakum di waktu yang lama, membuatku sangat merindukan dunia yang sudah membesarkanku. Tapi berat untuk mendaratkan kaki ke ‘gray area’ itu lagi. Istilah katanya, jera. Aku tak ingin lagi menyakiti Ayah dan keluarga, serta tak ingin membuat Tuhan murka.

“kembalilah, Nak” sebut Ayah saat aku berbincang dengan lelaki yang selalu diam-diam aku rindukan itu. “setiap hidup, pasti ada godaan dan cobaan. Sebab tak mungkin selamanya jalan yang kita tempuhi, mulus dan lurus. Setiap akan naik kelas, pasti ada ujian”. Ayah selalu memberikan semangat padaku. Tak peduli ia letih dan pernah kecewa dengan sikapku. “Ayah tau, politik adalah jiwa Nana. Kekuasaan adalah ruh yang ingin Nana bangunkan” pelan ayah menyebut namaku. Ia menatapku dalam, membuat hatiku kecut di hadapan lelaki ini, lelaki yang hanya lulus kelas tiga Sekolah Rakyat beberapa tahun silam. “Kembalilah, Nak. Jalani pelan-pelan. Kemarin Allah memberhentikanmu dengan tanganNya atas perantara pimpinanmu, sekarang Ia memberimu kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Tapi ingat, kesempatan hanya datang sekali. gunakanlah kesempatan itu untuk kebaikan”. Ia nyalakan rokok, menghirupnya, kemudian menghembuskan asapnya ke udara. Aku kenal, ini salah satu cara ayah untuk menyamarkan kesedihan. “Ingat-ingat yang telah lalu, jaga-jaga yang akan datang. Ayah percaya, Nana bisa meraih tujuan. Jadi, kembalilah berpolitik Nak”.

Di halaman samping rumah kami berbincang. Tentang masalalu dan masadepan. Namun berita politik dan kekuasaan tak pernah lekang dari lintas pembicaraan. Sekalipun aku jauh dari Ayah, beliau tetap menelponku, mengajak bergosip tentang partai politik, tokoh-tokohnya, atau berdiskusi tentang negara. Sesekali saja Ayah menanyakan kabarku. Sebab Ayah tahu, anak-anaknya adalah orang yang kuat. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, sungguh, aku ingin kembali ke duniaku. Itulah jauh-jauh hari telah ku-azamkan dalam hati, aku akan kembali dengan jiwa baru, style baru, pemikiran baru, juga tujuan baru. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Meski juga tak terlalu berharap untuk dapat berpolitik yang good ethic di bumi Indonesia. Tapi aku akan berusaha.

Ayah, aku tak bisa menjanjikan aku akan lebih hebat dan baik-baik saja. Tak ada yang bisa menjanjikan itu. Akan tetapi aku jauh lebih siap daripada dulu.

Wednesday, August 17, 2011

sekeping cerita merdeka

HUT REPUBLIK INDONESIA KE- 66


Tema:

‘Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Kesadaran Hidup dalam ke-Bhinneka-an untuk Kokohkan Persatuan NKRI, Kita Sukseskan Kepemimpinan Indonesia dalam Forum ASEAN untuk Kokohkan Solidaritas ASEAN’


Apa yang menarik dari peringatan kemerdekaan?

“ada panjat pinang, lomba makan kerupuk, balap karung, lomba kelereng, lomba ikat tali sepatu, dan lomba nyanyi” jawab Azza, adikku yang bersekolah di Madrasah Diniyah.

“ada marching band!” jawab si cantik Arra, adikku yang paling cerewet dan sok dewasa. “kan keren kak, mereka menari, main musik, dan berbaris rapi” lanjutnya antusias.

Sedangkan aku? Saatnya menonton Rhoma dan Soneta. Apalagi ditambah aksi Ridho, anak Rhoma Irama yang memiliki suara syahdu dan merdu.

Selain itu? Tak ada. Sudah berulang kali kupikirkan, namun peringatan kemerdekaan hanyalah berupa seremonial belaka. Ada rombongan paskibraka, ditandai dengan cewek cantik penggerek bendera. Atau juga pasukan ‘pembela’ tanah air dan bangsa dari kalangan kepolisian dan angkatan bersejata. Ada pidato kenegaraan dari presiden, ajang nostalgia para presiden terdahulu, nyekar ke kuburan pahlawan, hadirnya duta besar dan sahabat dari luar negara, munculnya batik dan kebaya model baru, serta komentar para artis tentang hari merdeka. Oh iya, tak lupa ditandai dengan bendera merah putih berjejer di sepanjang jalan, berbaris rapi di kantor-kantor pemerintahan, berdiri tegak di rumah-rumah penduduk, beribar-kibar di kaca mobil dan setiap kendaraan.

Tak hanya itu, tapi di jaman internet seperti sekarang ini, bendera merah putih banyak ditemukan di situs jejaring sosial, terpampang di facebook, nongol di twitter, dan terdampar di picasa, yahoo, dan berbagai situs lainnya. Kemudian, bertaburan pula kata-kata indah penuh semangat juang, mendesah-desah, merintih, dan memelas untuk menggambarkan perasaan dan diri yang kesal, marah karena merasa tak merdeka.

Berbeda lagi ceritanya kalau hari kemerdekaan datang pada bulan ramadhan. Seperti saat ini, acara perayaan tak begitu semarak dan tak segemerlap dua tahun lalu, saat 17 Agustus tiba di hari biasa. Tak akan kau temukan acara open house atau makan-makan. Namun intinya, kemerdekaan hanyalah sebuah perayaan. Jangan pernah mengharapkan bulu merinding mendengar seorang pemuda dengan bangga datang ke istana negara, mendeklarasikan cintanya pada Indonesia, jangan pernah bermimpi Soekarno berorasi di tengah massa, jangan mengkhayal Amerika angkat topi hormat untuk kita, juga jangan berhalusinasi kalau Malaysia akan minta maaf bahwa mereka pernah silap.

Simpan semua keinginan itu. Simpan rapat-rapat. Jangan sampai di dengar bangsa lain, kalau kita, bangsa Indonesia, mencetak prestasi korupsi. Jangan! Jangan sampai mereka tahu, kalau kita menabung skandal demi skandal kebusukan negara sendiri. Cukup kita telan bulat-bulat borok ini. Ibarat kanker stadium tiga, inilah Indonesia. Di luar megah, di dalam begah!

Di hari ulang tahun Indonesia yang ke 66 ini, pekikkan saja ‘Merdeka’ sebisamu. Cukuplah agaknya mengobati hati yang sedang rindu dengan keadilan. Teriakkan saja ‘Merdeka’ semampumu. Cukuplah agaknya menyembuhkan batin yang luka karena tergores pengkhianatan pemerentahan. Hayati saja peranmu sebagai bangsa. Jangan berlebihan. Tak baik!

Karena ini Indonesia. Indonesia yang merdeka secara de facto dan de jure, namun terjajah secara mental dan pemikiran.

M E R D E K A…!!!

Tuesday, August 9, 2011

Cerita tentang jam tangan


Sekitar pukul 03.30 sore, aku singgah ke toko jam tangan Hendrik di jalan Setia budi, Medan. Mau ngebetulin jan tangan merk Westar peninggalan almarhum emak. Jam Westar itu dibeli ayah dari kuala Lumpur, Malaysia dan diberikan ayah untuk emak 25 tahun silam. Jamnya masih sangat bagus. Bersepuh emas, kacanya tebal berbentuk kerucut, dan di dalamnya berhiaskan permata.

“kalo dijual, harganya bisa satu juta lebih. Karena kalau jam tangan ini dibeli baru, harganya bisa 3 juta-an”, papar ayah suatu ketika melihat jam tangan Westar terletak begitu saja di atas lemari pakaianku. Padahal jam tangan itu kuletakkan dalam kotak kecil bening bersama dengan tumpukan jam tanganku yang lain. Tapi ayah tetap tak setuju, sedih dan kesal melihat caraku memperlakukan jam tangan itu.

“itu ayah kasi ke Nana, untuk nana perbaiki, dijaga agar gak rusak dan bisa dipakai lagi”, lanjut ayah sambil membolak-balik jam tangan tersebut. Diperhatikannya seksama, diangkatnya ke atas agar terbantu penerangan cahaya lampu.

“gak rusak kok yah… Nana janji, akan Nana perbaiki”. Aku merasa bersalah. Tiba-tiba saja kesedihan menyelinap ke dalam pikiranku. Hatiku mencelos. Sedih teringat bagaimana emak sangat menjaga segala harta dan titipan ayah, dari anak-anak, perabotan rumah, uang belanja, hingga hadiah. Jam westar ini, emak sangat mengaguminya. Cantik dan elegant. Sangat pantas di tangan emak. Tapi emak tidak mengenakannya setiap hari. Kalau hari-hari lain, misalnya mau pergi ke pasar, mengambil raport kami, jalan-jalan sekitar kota Tanjungbalai, emak hanya mengenakan jam tangan kecil berwarna hitam yang terbuat dari kulit-kulitan. Kalau tidak salah, harganya cengdem alias se-cheng adem. Jam tangan itu sangat sederhana. Tapi kata emak, bisa dipakai di segala suasana dan di setiap keadaan.

“kesederhanaan itu memberikan kenyamanan” ujar emak saat kutanyakan mengapa masih suka memakai jam tangan mungil itu. “tapi emak sangat suka jam tangan ini” tunjuk beliau pada jam tangan westar “karena hadiah dari ayah”. Emakku tersenyum dan membersihkan permukaan jam tangan Westar.

Itulah emakku. Beliau sangat low profil meski bergelimang harta. Sangat rendah hati, bijaksana, dan mengagumkan meski dikelilingi kekayaan. Berada di dekatnya, rasanya waktu terlalu cepat berjalan. Kau seperti ingin duduk berlama-lama di dekatnya. Bicara tentang cinta dan kasih sayang, bercerita tentang perjuangan hidup, ngobrol tentang kesulitan dan penderitaan, tertawa dan bercanda bersama, dan akhirnya jarum jam berputar semakin cepat menuju pukul 05.30 pagi.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…” Ayah memanggil-manggil nama emak. Kemudian air mata lelaki penyayang itu menetes perlahan dalam diam. Tiap bulir yang tumpah, serentak dengan ia menyebutkan asma Allah. Emak telah berpulang pada pukul 05.30 tepat, tanggal 5 Agustus 1999, sehari setelah ulang tahunku. Di hari itulah ayah memberiku jam tangan Wetar, jam tangan pemberian ayah, sekaligus kesayangan emak.

“kak, pilih yang mana kakak mau” ujar Putri, teman sekantorku begitu aku tiba di kantor, ia langsung memperlihatkan padaku 6 buah jam tangan oleh-oleh dari Bukit Bintang, Malaysia. Lima hari yang lalu, ia berangkat ke Kuala Lumpur bersama keluarganya yang sudah bermukim lama di sana.

Lalu aku pilih satu buah jam tangan sederhana berwarna putih, terbuat dari karet dan bermerk Ripcurl kw 11. Lagak juga aku memakainya. Seperti kata emak, ‘kesederhanaan itu memberikan kenyamanan’. Dan aku merasa nyaman dengan Ripcurl kw 11. Sementara Westar masih diperbaiki, akan kupakai dulu jam tangan pemberian Putri.

Thanks mom’, telah mengajarkanku arti kesederhanaan,
Thanks dadd, telah mengajarkanku cara menghargai setiap pemberian,
Thanks Putri, telah mengingatkan kembali cerita jam tangan lewat sebuah Ripcurl.

 
Free Host | lasik eye surgery | accountant website design